Refleksi Tentang Nilai Ketulusan

Berawal dari sebuah tweet yang lewat di beranda dan masalah kecil yang belum lama ini aku alami, aku jadi ingin menulis. Isi tweet itu intinya mengatakan kalau ketulusan adalah omong kosong, kalau seseorang berani memulai hubungan (dalam konteks ini hubungan romantis, tapi sebenarnya hubungan pertemanan juga bisa, sih), dia harus berani ditinggalkan kalau alasan yang jadi ‘bahan bakar’ hubungan itu sudah hilang. Hubungan antarmanusia dinilai layaknya bisnis, ada hal yang perlu dipenuhi makanya hubungan itu bisa terjadi. Aku lupa akun mana yang mencuitkan itu, ketika aku coba cari kata kuncinya, aku malah menemukan ratusan cuitan lain yang menyatakan ide yang sama: ketulusan itu omong kosong. Aku langsung senyum-senyum dan geleng-geleng kepala, ternyata banyak orang pernah disakiti dan dikhianati (termasuk aku). Walaupun begitu, aku menolak kalau aku dibilang tidak bisa memberikan ketulusan itu. Aku menolak ide kalau aku punya hubungan sama seseorang harus ada alasannya, tidak bisa didasari ketulusan. Tulisan ini akan menjelaskan alasannya.

Kejadiannya pasti relatif buat setiap orang, jadi pasti ada perbedaan di antara pengalamanku dan pengalaman orang-orang lain di dunia ini. Manusia serba relatif, jadi nggak ada pakem atau teori tertentu yang bisa dijadikan patokan. Teori atau pola tertentu yang sering terjadi mungkin ada, contohnya seperti tadi, banyak orang yang pernah dikhianati dengan pola yang sama, atau salah satu contoh pengelompokan manusia secara psikologis dengan MBTI. Terlepas dari itu semua, tetap saja setiap manusia pasti unik. Ketika pertama kali membaca pernyataan kalau hubungan yang dibangun antarmanusia itu harus didasari kepentingan, aku langsung ingat kutipan dari dosen waktu aku kuliah hubungan internasional dulu: “in politics, there is no such thing as free lunch”. Kutipan itu sering sekali beliau ucapkan sampai rasanya seperti mantra buatku, bahwa dalam berpolitik, kepentingan adalah hal primordial. Kutipan itu persis menggambarkan cuitan orang yang tadi aku sebut di paragraf pertama di atas. Itu berarti, sudut pandang yang ia pakai dalam memandang manusia adalah, setiap hubungan di dunia ini adalah kegiatan politik. Pandangan itu nggak salah, karena politik memang bisa terjadi di mana aja, dan dalam bentuk apa aja. Tapi, aku tidak sepenuhnya setuju dengan akun itu.

Berbanding terbalik dengan akun tadi, aku menganggap nggak semua hubungan di dunia ini sifatnya politis. Aku bisa tulus ke orang lain, walaupun di beberapa kasus orang lain nggak bisa memberikan ketulusan yang sama, ya sudah. Aku nggak bisa mengharapkan orang lain melakukan itu, meskipun dikhianati pasti terasa menyakitkan. Aku yakin aku nggak sendiri, pasti ada hubungan yang memang didasari ketulusan, masih ada manusia yang membangun hubungan karena ia siap dan ia mau. Memang benar, seseorang punya tujuan awal ketika ia memutuskan untuk membagi separuh hidupnya bersama orang lain. Sayangnya, dalam hidup manusia, selalu ada hal yang nggak bisa dijelaskan pakai nalar akal sehat. Sebagaimana cinta didefinisikan oleh berbagai ilmuwan dari bidang studi yang beraneka ragam, tetap saja manusia itu kompleks. Pengalaman mencintai itu abstrak dan hanya bisa dirasakan, sulit dideskripsikan dengan kata-kata. Berbagai novel atau karya sastra lainnya bisa memberikan gambaran tentang bagaimana dua insan saling mencintai, tetapi pengalaman mencintai itu sendiri personal bagi tiap orang, hampir mirip dengan pengalaman spiritual yang kita miliki dengan Tuhan. Sifatnya sangat personal dan subjektif.

Bicara soal hubungan antarmanusia juga, aku teringat pada dua tokoh filsuf penting Prancis, J. P. Sartre dan Albert Camus. Keduanya sama-sama punya ide filsafat eksistensialisme, meskipun ada perbedaan pandangan di antara keduanya. Pertama aku bahas Sartre dulu. Ada salah satu kutipan paling terkenal dari Sartre: L’enfer c’est les autres (neraka adalah orang lain) yang berasal dari pertunjukkan teaternya yang berjudul Huis Clos. Apa yang terlintas di benak ketika membaca kutipan itu? Jujur aja aku sering terjebak memakai kutipan itu ketika aku merasa sebal sama orang lain. Rasanya gondok setengah mati ketika ada keinginan kita yang ditentang orang lain atau kalau ada orang yang menghalangi tujuan kita, ya kan? Rasanya berhubungan sama orang lain serupa neraka. Kutipan ini juga mirip-mirip sama kutipan dari Thomas Hobbes, Homo Homini Lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya). Manusia pasti mau kepentingannya dipenuhi, dengan cara apa pun bahkan kalau nggak dipagari etika dan nilai moral, makanya bisa serupa serigala, bisa terasa sangat menderita bagai neraka.

Omong-omong, tentu saja maksud Sartre dengan kutipannya tidak sedangkal alasan karena beliau lagi kesal sama orang lain. Melalui kutipan itu, Sartre sebenarnya menganggap kalau orang lain itu bisa jadi neraka buat kita, kalau kita jadi kehilangan kebebasan di bawah dominasi orang lain, ketika kita menjadi ‘objek’ dan bukan lagi ‘subjek’ atas diri kita sendiri, kita nggak bisa lagi berbuat semau kita. Masalahnya, semua manusia pasti mau memenuhi kepentingannya, jadi sangat sulit untuk mencapai kebebasan itu. Manusia sebenarnya punya kebutuhan dasar yang sama, layaknya saling bercermin satu sama lain. Oleh karena itu, hubungan antarmanusia itu jadi seperti neraka.

Itu ide awalnya, kenyataannya, jelas manusia tidak bisa menghindari hubungan antarmanusia sebagai makhluk sosial. Sartre bahkan terlibat apa yang pemuda-pemudi zaman sekarang sebut open relationship dengan Beauvoir, tujuannya untuk menghindari objektifikasi salah satu pihak di bawah ikatan pernikahan. Dari sumber-sumber sejarah yang ada, kenyataannya mereka saling cocok, melengkapi, menyayangi. Mereka punya satu tujuan dan visi yang sama ketika mereka menjalani hubungan tersebut. Bahkan ada sumber yang menyatakan kalau mereka saling bercerita tentang orang-orang lainnya yang juga dekat, saling curhat tentang ‘selingkuhan’ masing-masing. Dengan kondisi hubungan itu, mereka bertahan sampai maut memisahkan, mereka bahkan dimakamkan berdampingan. Apakah ketulusan itu omong kosong karena hubungan mereka dilandasi kepentingan? Bisa dijadikan bahan refleksi sendiri, sementara yang akan tahu jawabannya hanya Sartre dan Beauvoir yang menjalani hubungan itu.

Apakah semua orang mampu menjalani apa yang dijalani Sartre dan Beauvoir? Aku berani bertaruh, tidak. Sudah jelas, aku sendiri saja tidak bisa, jadi tidak semua orang mampu. Manusia itu kompleks, terbentuk dari berbagai jenis pengalaman, persepsi, nilai, pendidikan, dll. yang dibangun dan berkembang terus sejak kelahirannya. Manusia juga akan memandang nilai ketulusan itu berbeda-beda dalam hidupnya, jadi menurutku itu bukan omong kosong. Manusia bebas untuk melakukan apa saja yang ia mau, dengan menemukan orang lain yang juga berbagi nilai yang sama dengannya, dengan kompromi, dengan kesepakatan.

Kata kunci kebebasan manusia, menurut Sartre adalah kutukan yang membuat manusia harus menemukan esensinya hadir di dunia ini, tetapi menurut Camus, kebebasan adalah hal yang relatif. Sartre menganggap sosialisme adalah solusi yang bisa membebaskan manusia dari ‘neraka’ itu, padahal belum tentu. Hal ini termasuk salah satu yang membedakan pemikiran keduanya. Bagi Camus, kebebasan manusia itu sangat relatif, tidak bisa diseragamkan, dan semua kepentingan manusia sama pentingnya. Aku setuju dengan Monsieur Camus, 100 persen. Bagaimana kalau kebebasan menurutku adalah mencintai dan menyayangi seseorang dengan tulus? Bagaimana kalau menurut orang lain kebebasan adalah membangun rumah tangga yang bahagia dengan pasangannya? Bagaimana kalau kebebasan bagi orang lain adalah dengan menjadi selibat seumur hidup dan menjalani kehidupan spiritual? Kebebasan itu sangat-sangat relatif dan berbanding lurus dengan kebahagiaan.

Setiap orang punya cara untuk berkomitmen pada dirinya sendiri dan orang lain. Dalam esainya yang berjudul Mythe de Sisyphe, Camus menyampaikan kalau hidup manusia ini absurd, serupa rutinitas yang berulang setiap harinya, berjuang, lalu akhirnya meninggal juga. Kebahagiaan dan pilihan hidup manusia itu bentuk kebebasan, demi menjalani hidup yang sebaik-baiknya. Termasuk dengan membangun hubungan interpersonal dengan orang lain. Di dunia ini banyak yang memandang ketulusan itu omong kosong, karena ide itu dibentuk dari pengalamannya. Bagi orang-orang yang hidup dengan dikelilingi keluarga yang harmonis dan hubungan percintaan yang sehat selama hidupnya, mereka pasti tidak akan menganggap ketulusan itu omong kosong. Bagi Camus, ada orang seperti Mersault (tokoh dalam novelnya yang berjudul The Stranger) yang menjalani hidup tanpa merasa. Hubungan dengan perempuan, hanya untuk kesenangan semata; orang tua meninggal, tiada sedih; hendak dihukum mati karena kesalahannya, terima saja tanpa ketakutan berarti dan menolak segala bentuk konseling yang ditawarkan.

Kembali ke premis awal tentang tweet yang aku bahas di awal, orang yang mencuitkan hal itu memang tidak salah dengan menyampaikan opininya. Selanjutnya orang-orang yang sependapat mulai memberi panggung sampai cuitannya bisa sampai ke lini masa twitter-ku. Bukan hal yang salah, tetapi lewat tulisan ini aku menyampaikan sudut pandang lain, bahwa nilai ketulusan ditentukan beda-beda oleh setiap orang. Untukku pribadi, kalau orang di balik akun itu berada di lingkaran pertemananku, aku pasti nggak akan memilihnya sebagai prospek calon partner hidupku. Dia hanya memandang hubungan antarmanusia ada untuk memenuhi kepentingannya, ketulusan buat dia dinilai serendah itu. Jelas aku akan memilih orang lain yang menilai ketulusan sama tinggi dengan bagaimana aku menilainya. Tapi jelas aja orang itu tetap bisa punya pasangan, buktinya banyak yang sependapat dengannya, dan — lagi-lagi aku tekankan — itu tidak salah. Orang-orang dianugerahkan kebebasan untuk memilih jalan hidup yang ingin ia jalani.

Untuk menyimpulkan ide tulisanku kali ini, aku berpikir bahwa seseorang bisa menilai ketulusan dengan cara yang berbeda-beda. Jika orang yang berada di balik akun itu menganggap kalau ketulusan adalah omong kosong, berarti ia pemikirannya dipersepsikan dengan lingkungan dan pengalaman yang demikian. Hal itu sama sekali tidak salah. Meskipun menurutku, ketulusan benar ada dan bukan omong kosong, aku nggak akan berusaha mengubah persepsi orang yang tidak sependapat denganku, tetapi justru memilih untuk mencari orang-orang yang juga menilai ketulusan sama seperti aku, dan itu pasti ada, meskipun mungkin sulit dicari di kehidupan abad 21 ini. Pilihan dan persepsi orang pasti berjuta-juta macam, dan menurutku semuanya perlu dihargai, selama itu tidak melukai umat manusia lainnya. Biarkan manusia itu memperoleh kebebasan dan kebahagiaannya, tanpa menganggap apa yang kita percayai benar bisa diterima oleh setiap orang di dunia, karena manusia serba relatif. Akhir kata, aku berdoa semoga kita semua bisa menemukan orang-orang yang bisa berbagi nilai, pandangan, dan persepsi yang sama atau yang sesuai dengan apa yang kita butuh sebagai teman hidup, dan juga hubungan interpersonal lainnya seperti teman dekat. Karena kalau berteman, semua juga bisa jadi teman, malah memperkaya wawasan dan sudut pandang.

P.S. Kalau tertarik untuk mempelajari pemikiran Sartre dan Camus lebih jauh, karya-karya mereka yang aku sebutkan di atas bisa dijadikan referensi. Beberapa artikel di bawah ini juga bisa dijadikan daftar bacaan ringan tentang garis besar pemikiran mereka.

https://la-philosophie.com/enfer-autres-sartre
https://www.laparafe.fr/2010/01/lenfer-cest-les-autres-explications/
https://aeon.co/ideas/how-camus-and-sartre-split-up-over-the-question-of-how-to-be-free

Merci! ^^

--

--

Junior content writer in the IT industry, was a literature student. Write reflections, thoughts, poems in my free time.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Laras

Laras

3 Followers

Junior content writer in the IT industry, was a literature student. Write reflections, thoughts, poems in my free time.